Kamis, 16 Mei 2013

cinta tak selamanya indah



CINTA ADINDA, CINTA ANANDA!

Itulah yang aku takutkan ketika cinta mulai merasuk ke dalam tubuhku. Cinta masuk dan mempengaruhi hati, perasaan, dan pikiranku. Sejak dulu, aku sangat berhati-hati dengan yang namanya cinta. Menurutku, aku belum mampu mencintai jika akhirnya harus melupakan. Tahukah kamu?hidupku tidak sama dengan gadis-gadis remaja lainnya. Gadis-gadis remaja yang mempunyai gairah muda yang sangat menawan. Memang sebagian orang yang kutemui mengatakan bahwa aku adalah gadis hebat dan kuat. Waww, itu menurutku sangat berlebihan tetapi aku menyadari itu. Ya, aku sendiri sadar bahwa aku memang hebat dan kuat. Namun, tahukah kamu, selain itu masih ada sebagian orang yang mengasihaniku. Hmm, dibalik karismaku tentang kehebatan dan kekuatan, perkataan sebagian orang lagi itu juga benar. Sudahlah, sekarang kembali pada persoalan cinta! Aku tak tahu harus bagaimana! Aku bingung! Perasaan ini begitu tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam tubuhku. Mungkin karena aku selalu melawan rasa ini. Mungkin juga, hatiku tak bisa lagi diajak kompromi untuk menyingkarkan masalah perasaan ini. Dan sampailah waktunya aku tak bisa menahan lagi. Cinta, cinta, dan cinta! Dia, dia, dan dia! Ya, cinta dan dia! Ya, cinta dia yang membuatku begini. Ya, aku cinta dia. Apakah benar aku mencintainya? Dia memang terlihat sangat memesona. Sosok laki-laki yang luarannya biasa-biasa saja, namun dalamnya sangat mempesona. Dia begitu membuatku terperosok ke dalam mimpi-mimpi indah percintaan. Sebenarnya, sederhana saja perhatian yang dia berikan padaku. Namun, itu membuat hatiku terasa seperti tersengat aliran listrik. Hahahaha, benar-benar berlebihan. Tapi percayakah kamu, itulah yang sebenarnya aku rasakan. Aku jatuh cinta pada keserhanaan yang dia berikan. Tapi apa yang akan kulakukan ketika akhirnya harus melupakan cintaku padanya? Berbagai cara telah kucoba, contohnya dengan menghiraukan panggilan dan pesan yang masuk ke ponselku, mengacuhkan pesan-pesan yang masuk ke dalam facebook dan twitter-ku, dan mengabaikan nyatanya dirinya saat berjumpa di luaran sana. Dia benar-benar membuatku jatuh. Jatuh cinta! Tetapi cinta itu kini harus kukubur seiring dengan perginya ku dari sini. Ya, betul harus kukubur walau sebenarnya aku tak mau menguburnya. Kamu tahu kenapa? Karena entah kapan aku kan berjumpa dengannya lagi. Hahh, helaan napas menutup semuanya. Semoga nanti, di suatu tempat aku telah dapat melupakannya. Dan terakhir kali ingin kuucapkan, bahwa aku jatuh cinta. Terima kasih telah mengisi hari-hariku dengan kesederhanaan. Tetaplah dengan kesederhanaanmu karena itulah pesona dirimu. Selamat tinggal.

“Selamat Pagi semuanya. Assalamu’alaikum. Pagi ini kalian mendapatkan teman baru. Yaa, bagi yang laki-laki kalian akan mendapatkan tambahan gadis cantik di sini. Bagi yang perempuan, inilah sahabat baru kalian….”, kata Bu Miranda bersemangat memberikan kabar adanya murid baru kepada murid-murid kelas XIb yang membuat seisi kelas grasak-grusuk penasaran melihat murid baru tersebut. Dari balik pintu muncullah seorang gadis menggunakan pakaian seragam yang berbeda dengan mereka. Gadis itu tampak bersemangat memasuki kelas dan memberikan senyuman hangat tanda perkenalan.
“Assalamu’alaikum, nama gue Adinda. Gue pindahan dari Banjarmasin. Salam kenal semuanya. Mohon bantuannya selama ada di sini.” Kata Adinda ramah sambil melihat ke seluruh ruang kelas.
“Walaikumsalam….”, jawab anak-anak kelas XIb bersamaan.
“Wahh… bu, ini mah bukan cantik lagi namanya tapi TOP BGT”, celetuk salah satu anak diiringi gelak tawa anak-anak sekelas.
“Hati-hati ya dengan kecantikan gue, nanti tersihir, gag mau jauh-jauh deh dari gue.” Timpal Adinda kepada anak tadi. Dan gelak tawa semakin membahana di kelas tersebut.

“Adindaaaaa… ikut ke kantin yuk”, ajak seorang murid kelas XIb yang bernama Laras. “Iya, sekalian nanti kita kenalin sama anak-anak yang lain. Mau yukk!” tambah Yosih yang duduk sebangku dengan Laras. “Ada apaan aja yang menarik di kantin?” tanya Adinda asal sambil merapikan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas. “Wahh, di kantin kita banyak kali yang menarik, apa aja yang lo mau pasti terhidang. Salah satunya nih yaa, ada nasi peri kodok. Enak lho!”, jawab Yosih dengan mata dikedip-kedipkan agar Adinda tertarik. “Wah, gue mau tuh”, kata Adinda sembari berdiri dan menggamit tangan Laras dan Yosih.
Dalam perjalanan menuju kantin, mereka bertiga mengobrol sambil tertawa terpingkal-pingkal. Seperti sahabat yang sudah lama kenal. Tanpa sadar ada seorang murid laki-laki yang memerhatikan Adinda dari kejauhan. Dia tersenyum melihat anak baru yang sangat gampang masuk ke sekolah mereka dan berbaur dengan bebas. Dalam hati ia berkata, itulah sosok perempuan yang menarik. Murid laki-laki itu mengikuti Adinda, Laras, dan Yosih. Sesampainya di kantin murid laki-laki itu langsung berbaur dengan teman-temannya.
“Mang, saya mau mesen nasi peri kodok 1 sama nasi pocong 2 yaa. Minumnya biasa yaaa. Gag pake lama ya, mang. Lapeeeeeeerrrrrrrrr”, pinta Laras sambil cengengesan kepada mang-mang langganan yang jualan di kantin.
“Ohh, gitu ya Din. Hebat ya, lo kuat banget pindah-pindah mulu. Kalo gue sih udah nangis darah kali. Baru deket sama orang, eh, udah harus pindah lagi aja. Tapi ini terakhir kalinya kan?lo dari sini gag akan pindah-pindah lagi?” ujar Yosih tanpa berhenti dan penasaran dengan jawaban Adinda. “Gag tau, itu sih tergantung kerjaan nyokap. Kalo harus pindah, ya mau gag mau. Tapi gue sih selalu berusaha meninggalkan sesuatu untuk teman-teman gue.” Papar Adinda dengan tatapan kosong. Dalam hati dia berkata, sebenarnya kalau dirasa-rasakan dia gag mau deh pindah-pindah terus. Cape! Harus bersosialisasi lagi. Untungnya Adinda adalah sosok gadis yang percaya diri dan gampang bersosialisasi dengan orang-orang baru.
“Yeee, makanan dateeeng.”seru Laras yang dari tadi diem aja ngedengerin Adinda ngomong karena perutnya terasa lapar sekali.
“Cobain, Din. Kali-kali gara-gara ni makanan lo bakalan betah di sini. Hehehe”, canda Yosih sambil menyuap makanannya. Tetapi seketika wajah Yosih berubah pucat. Dia melihat seorang murid laki-laki yang sedang berjalan ke arah mereka. Dengan gerakan cepat Yosih mencubit pinggang Laras. “mampus, ras. Deadline belom gue kerjain. Itu si Nanda ke sini pasti minta cerpen-cerpennya deh”, bisik Yosih sambil menelan makanannya yang terasa tidak enak sekali. Ternyata benar, murid laki-laki itu menuju meja mereka.
“Hoi, makan aja. Deadline mana?”, pinta Nanda pada Yosih. “Sabar, Pak. Gue belom sempet bikin. Hehhe”, jawab Yosih cengengesan sambil menunduk. “Eh, deadlinenya ntar aja. Kan ntar siang rapat. Nan, kenalin ni Adinda. Murid baru di kelas gue”, ujar Laras mengalihkan pembicaraan. Adinda yang saat itu sedang menyeruput es jeruknya langsung terpana melihat kilatan mata Nanda. Mata itu begitu bening dan indah, pikir Adinda tidak sadar. “Ananda”, “Adinda” sambil berjabat tangan mereka berkenalan.

Itulah awal mula rasa itu tumbuh. Sejak hari pertama itu, pikiranku malayang memikirkan dia. Selalu dan selalu. Apalagi sudah empat bulan ini banyak warna yang kulewati bersamanya. Ananda benar-benar ramah dan sederhana. Perhatiannya membuat otak, hati, dan perasaanku terganggu. Dia selalu menemaniku melewati hari-hari. Tak salah bila teman-teman mengatakan kami itu pasangan sejoli yang cocok sekali. Bukan berdasarkan nama saja, tetapi banyak hal yang membuat kami sama. Kami sama-sama tidak menyukai hal-hal yang memusingkan. Semua kami lakukan dengan santai. Kami senang bercanda. Kelakarnya selalu membuatku tertawa. Dan sampailah pada titik bahwa aku merasa nyaman dengannya. Aku mengakui aku jatuh cinta padanya. Tapi tak ingin aku melukainya. Apalagi waktuku hanya tersisa dua bulan lagi di sini. Itu pun habis dengan ujian dan kepanitian pentas seni sekolah. Ya, aku membuat diriku sibuk hingga akhirnya melupakannya. Tapi, tak sedikitpun aku mampu melupakannya.

“Adindaaaaa, gue ke rumah lo ya. Gue pengen cerita deh”, rengek Yosih sesudah jam sekolah berakhir.
“Boleh. Boleh banget. Tapi, mampir dulu ya ke warung deket rumah gue. Mau ngambil dagangan”, cerita Adinda.
Diperjalanan Adinda, Yosih, dan Laras bercerita tentang ujian yang bakal mereka hadapi dan acara akhir semester yang sudah mereka rencanakan dari awal semester.
“Din, lo udah siap buat ujian?gue liat kahir-akhir ini lo sering bengong. Di kelas, di kantin. Kenapa sih?” tanya Laras penasaran.
“Siaaaaplaaa! Kan ini kenaikan kelas. Masa gag siap, ntar gue tinggal kelas.hehehe. iya, akhir-akhir ini kan gue menyibukkan diri jadi cepet cape”,jawab Adinda semangat agar Yosih dan Laras tidak penasaran lagi. Oooooohh, itulah yang keluar dari mulut Yosih dan Laras.
“Eh, Din. Lo belom buka ef bi? Kemarin gue liat si Nanda ngirim wall ke lo. Dia nanyain lo, kenapa gag pernah ikut rapat”, cerita Yosih.
“Iya, dia bilang kenapa orangnya gada tapi laporan selalu masuk. Kemarin dia juga sms gue, nanyain lo. Kasian tu anak orang, kayaknya kangen ma lo”, papar Laras menambahkan sambil menggoda Adinda yang tak pernah menceritakan tentang dirinya dan Nanda. Adinda hanya menarik napas dan mengeluarkannya pelan-pelan. Rasa itu benar-benar membunuhnya. Tetapi Adinda tak ingin menceritakannya kepada kedua sahabatnya. Pasti mereka akan semangat sekali menggalang panitia perjodohan antara Adinda dan Ananda. Dan, Adinda tak mau itu terjadi.
Sesampainya di rumah Adinda, Yosih langsung mempersiapkan tisu dihadapannya. Ia takut kalau-kalau air matanya akan jatuh berlinang ketika menceritakan percintaannya yang kandas dengan Galang yang sudah dua tahun ini dipacarinya. Ternyata benar, Yosih menangis tak henti-hentinya. Namun, tangisan itu berhenti ketika mendengar suara ponsel Adinda yang berdering. Di layar terpampang nama ‘ANANDA’ tetapi Adinda tak bergeming. Ia tak ingin menjawabnya. Seketika itu juga ia tampak lemah. Ia menundukan kepalanya dalam-dalam dan hanya bahunya saja yang tampak naik turun. Yosih dan Laras memeluk Adinda. Mereka tau benar perasaan Adinda. Walaupun Adinda tak pernah menceritakan apapun. Tetapi dari gelagatnya, Adinda mencintai Ananda dan begitu sebaliknya.
“Gue tau kok, Din. Ini pasti berat banget buat lo. Tapi yang namanya perasaan cinta kita gag akan tau datengnya kapan, dimana, dan sama siapa. Mungkin, ya inilah dia. Ini saatnya lo mengenal rasa itu”, kata Laras bijak sambil mengusap-usap punggung Adinda.
“Gue gag mau nyakitin dia, Ras, Sih. Gue gag mau. Tapi gue juga gag bisa ngelupain dia. Gue gag pernah pengen mencintai seseorang dengan keadaan gue yang beda banget sama kalian. Gue gag mau punya perasaan ini kalo akhirnya semua harus gue lupain begitu aja. Waktu gue di sini gag panjang”, jelas Adinda masih tetap menunduk tetapi tetap memperlihatkan ketegarannya.
“Lo tau, Tuhan itu menciptakan kita berpasang-pasangan, Din. Jalanin aja dulu. Kalo toh nantinya harus berpisah, masih banyak cara untuk tetap menjalin hubungan. Zaman tu udah canggih. Dan, kalo pun jodoh pasti ketemu lagi. Lo tau, lo cewe kuat dan hebat di mata gue. Tapi, gue kasihan sama lo. Kenapa dengan masalah ini lo malah terlihat lemah. Ini bukan masalah besar!”, ujar Laras panjang lebar.
“Gue tau ini bukan masalah besar. Tapi ini kali pertama gue merasakan hal ini. Dan itu sakit. Gue nyakitin orang yang gue cintai. Padahal gue udah mengingatkan diri gue untuk gag terlibat dengan yang namanya cinta”, jelas Adinda.
“Itulah salahnya diri lo. Lo selalu memaksa untuk TIDAK untuk cinta. Tapi ternyata hati lo berkata lain. Tenang, berpikirlah dengan tenang. Pasti ada jalannya kok, Din.”, kata Yosih ikut menambahkan.

Malam setelah Yosih dan Laras pamit pulang, Adinda tak dapat tidur nyenyak. Padahal besoknya Adinda akan menjalankan ujian olah raga. Matanya tak dapat tertutup lama. Bayangan wajah Ananda selalu hadir. Dia mulai menangis lagi. Beberapa jam kemudian Adinda duduk dan menghitung hari. Seminggu lagi, katanya dalam hati. Adinda berpikiran bahwa ia tidak akan berjumpa dengan Ananda. Adinda hanya akan menitipkan sesuatu untuk Ananda. Ya, secarik kertas yang sudah beberapa hari lalu ditulisnya dengan segenap keberanian mengungkapkan kata itu. Walaupun nantinya orang-orang akan berkata bahwa ia pengecut, tetapi menurutnya ini lebih baik dari pada tidak sama sekali.

Teeeeeeeeeet, teeeeeeeeeeeeeeet…………..
Murid-murid berhamburan keluar kelas. Ujian pun berakhir. Dan berakhir pula perjalanan Adinda menjadi salah satu siswa di sekolah ini. Entah sekolah mana lagi yang akan ia datangi. Yang pastinya, Adinda sudah bertekad untuk mengubur semua kenangannya di kota ini. Tadi pagi, Adinda sudah menitipkan surat yang harus diberikan kepada Ananda di akhir acara pentas seni nanti malam. Adinda telah merencakan semua. Ketika Yosih memberikan surat itu, ia sudah berada di kereta menuju salah satu kota kecil di Jawa Timur.
Adinda mengelilingi sekolah. Memutar semua kenangan untuk terakhir kalinya. Dan keluar melalui pintu belakang sambil mengucapkan “selamat tinggal”.

Di pekarangan sekolah, murid-murid yang menjadi panitia sibuk menyelesaikan sentuhan terakhir mereka. Sebagian murid lainnya sibuk mempersiapkan pakaian dan dandanan untuk menghadiri acara pentas seni sekolah. Akhirnya acara pentas seni semester ini dibuka dengan kata sambutan dari Pak Yana selaku kepala sekolah. Pentas seni dilanjutkan dengan berbagai macam acara. Di mulai dari akustik-an oleh guru-guru, kemudian dilanjutkan dengan penampilan band-band, dan tarian-tarian yang menambah semarak pentas seni malam itu. Hampir tengah malam acara berakhir. Dengan sejuta canda tawa murid-murid membersihkan sisa-sisa perlengkapan pentas seni itu.
“Nanda, ini ada surat buat lo”, kata Yosih sambil menyerahkan secarik kertas kepada Ananda.
“Surat? Dari siapa?”, tanya Ananda bingung dan penasaran.
“Udah baca aja. Gue pulang duluan ya. Lo hati-hati. Kata yang bikin surat, abis baca langsung pulang aja!”, ujar Yosih menjelaskan.

Ananda langsung membuka surat itu dengan perasaan yang tak menentu. Dia sadar bahwa surat itu dari Adinda yang kini pastinya sudah pergi ke kota lain. Ya, Ananda mengetahui bahwa Adinda harus ikut dengan ibunya berpindah-pindah kota dengan alasan pekerjaan yang dijalani ibunya. Termangu Ananda membaca surat yang ditulis oleh Adinda. Ternyata gadis itu menjauhinya bukan karena ia membencinya, melainkan karena ia juga sedang memendam rasa yang sama dengan Adinda.

Di dalam kereta malam, Adinda tampak melamun jauh ke negeri antah berantah. Di sampingnya, ibu sedang tertidur pulas. Tetapi dari tidur pulasnya, tampak garis-garis tegas di wajah yang menerangkan bahwa kehidupan yang sedang diperankan ibunya teramat berat. Oleh karena itulah, Adinda selalu mengikuti kemana ibunya pergi. Lamunan Adinda terganggu oleh suara getaran yang ada di sakunya. Ya, ada pesan masuk dari Yosih yang mengucapkan selamat jalan. Air mata berlinang di pipi Adinda.

Setahun sudah sejak kepindahan Adinda dari kota yang membuatnya jatuh cinta. Setahun itu pula ia tidak dapat melupakan sosok Ananda. Dan setahun itu pula ia tidak pernah membaca pesan-pesan yang masuk ke dalam email-nya. Pesan-pesan yang sebenarnya ingin ia baca. Pesan-pesan dari seorang laki-laki sederhana yang membuatnya jatuh cinta. Tapi, saat ini Adinda ingin sekali membacanya. Kerinduannya benar-benar tak dapat dibendung. Mulailah ia membaca satu per satu pesan yang masuk. Dan sampailah ia pada satu pesan, tepat di hari ulang tahunnya.

From: anandananda@yahoo.com
To: adindaaa@yahoo.com
Subject: bacalah sayang.

Sudah sejuta kata kukirim padamu, sayang. Tak tahu aku di mana rimbamu. Aku kan tetap menunggumu. Aku pun begitu mencintaimu. Adindananda, kamu tahu aku akan selalu ada di hatimu dan aku akan selalu menjaga hatiku untukmu.

Sayang, kabari diriku.


Adinda terkejut membaca salah satu pesan yang masuk di emailnya. Kembali air mata berlinang karena ia tak tahu kapan akan berjumpa. Dan mulailah ia menghapus pesan-pesan tersebut satu per satu. Mematikan akun emailnya dan mengubur semua kenangan itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar